Rumah Kompos: Ajaibnya Pengolahan Limbah di Kampus PPNS


Di lingkungan kampus, aktivitas sehari-hari mahasiswa dan civitas akademika tentu menghasilkan berbagai jenis sampah, terutama sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut hanya akan menumpuk dan menimbulkan masalah bagi lingkungan. Namun di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), limbah justru diolah melalui fasilitas Rumah Kompos (RUKOM) sehingga tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi atau bahkan menjadi cuan. Metode pengolahan yang digunakan antara lain pengolahan sampah organik dengan larva BSF dan pembuatan ecoenzim. Untuk lebih jelasnya, dapat disimak pada penjelasan berikut.


Pengolahan Sampah Organik dengan Larva BSF

Salah satu proses utama yang dilakukan di Rumah Kompos PPNS adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan bantuan larva Black Soldier Fly (BSF). Pada tahap awal, larva digunakan sekitar ±10 gram sebagai starter. Setelah itu, kondisi larva akan dipantau secara berkala, biasanya setiap dua hari sekali, untuk memastikan proses penguraian berjalan dengan baik. Pemberian pakan juga disesuaikan dengan feeding awal agar larva tetap mampu mengurai limbah secara optimal.

Selama proses pengomposan berlangsung, beberapa faktor penting turut diperhatikan seperti pH, suhu, berat kompos, serta kondisi yang mendukung perkembangan larva. Pemantauan ini penting agar proses penguraian tetap stabil dan menghasilkan kompos dengan kualitas yang baik. Biasanya proses ini memerlukan waktu sekitar 10 hingga 12 hari, tergantung kondisi bahan yang diolah. Kompos yang sudah siap dipanen memiliki ciri khas yaitu tidak berbau menyengat dan memiliki tekstur yang menyerupai tanah. Jika kondisinya masih basah, maka kompos belum siap dipanen dan perlu melalui proses lanjutan.


Pembuatan Eco Enzyme

Tidak hanya berhenti pada pembuatan kompos, Rumah Kompos PPNS juga memanfaatkan limbah organik untuk membuat eco enzyme. Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah buah yang memiliki banyak kegunaan, mulai dari pembersih alami hingga pupuk cair. Dalam proses pembuatannya digunakan perbandingan 3 (kulit buah) : 1 (molase), dan 10 (air).

Selama proses fermentasi berlangsung, tutup eco enzyme perlu dibuka setiap hari untuk mengeluarkan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi. Selain itu, setiap minggu dilakukan pengamatan terhadap pH, suhu, dan perubahan warna cairan. Beberapa tanda juga menjadi indikator keberhasilan fermentasi, seperti adanya bau khas hasil fermentasi serta tidak munculnya jamur di permukaan. Jika jamur muncul atau nilai pH berada pada angka ≤1, maka kemungkinan proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.

Melalui berbagai proses tersebut, Rumah Kompos PPNS menunjukkan bahwa limbah yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya masih dapat dimanfaatkan dengan baik. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk organik, sementara eco enzyme memiliki berbagai manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sinilah terlihat bahwa pengelolaan limbah tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan yang bernilai ekonomi. Dengan pengolahan yang tepat, limbah yang awalnya hanya menjadi sampah dapat berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.